BLANTERORIONv101

Smartphone: Dari Mineral Bisa Buat Viral

7 June 2024

Di tahun 2024 ini, sekitar 60% dari populasi dunia (4.8 dari 8.1 miliar jiwa) merupakan pengguna smartphone. Fenomena ini merupakan gambaran pesatnya kemajuan dan mudahknya akses teknologi yang sedang terjadi. Kenapa? Karena bila dilihat pada tahun 1990 belum ada orang yang menggunakan smartphone!

Teknologi yang melekat di smartphone sudah jauh melangkahi kecanggihan komputer super di roket Amerika, Apollo Guidance Computer (AGC), yang digunakan tahun 1969 yang saat itu dipakai untuk mengantar manusia menuju Bulan! Bayangkan saja, AGC mempunyai bobot mencapai 35 kg (70 pon) dengan harga $ 150.000 dengan total kapasitas penyimpanan hanya 4 kilo byte! Bila kita bandingkan dengan smartphone sekarang yang hanya berbobot kurang dari 0.5 kg (1 pon), harga $ 150 (sekelas entry level dari Xiaomi, Infinix, dsb.) dan punya kapasitas penyimpanan lebih dari 64 juta kilo byte! Kemajuan pesat ini tentunya didorong oleh banyak faktor, dan yang paling berpengaruh adalah rekayasa pengolahan dan penyediaan material-material elektronik penyusun smartphone.

Sebuah publikasi menarik diterbitkan oleh USGS, berisikan infografis yang memetakan mineral-mineral yang “menyusun” smartphone saat ini. Setiap mineral dipilih berdasarkan kombinasi sifat-sifat tertentu dari unsur-unsur yang terkandung di dalamnya yang dibutuhkan untuk berbagai fungsi dalam perangkat elektronik.



  • Layar kaca yang kuat memanfaatkan unsur aluminium (Al), kalium (K), dan silicon (Si)
  • Penghantar listrik di layar sentuh transparan menggunakan indium (In) dan timah (Sn)
  • Baterai dari karbon (C), kobalt (Co), dan litium (Li)
  • Mikrofon dari nikel (Ni);
  • Bahan solder dari timbal (Pb) dan timah (Sn);
  • Semikonduktor dan chip mengandung antimon (Sb), arsenik (As), boron (B), fosfor (P), dan silikon (Si);
  • Casing dari plastik (minyak), aluminium (Al) dan karbon fiber;
  • Bromin (Br) dalam plastik untuk penghambat api;
  • Kabel mengandung tembaga (Cu), emas (Au), dan perak (Ag);
  • Kapasitor memakai tantalum (Ta);
  • Magnet, unsur tanah jarang yang digunakan seperti gadolinium (Gd), neodymium (Nd), dan praseodymium (Pr)
  • Unit komponen peredam getaran neodymium (Nd), disprosium (Dy), dan terbium (Tb)
  • Display layar warna-warni yang menarik digunakan REE seperti dysprosium (Dy), gadolinium (Gd), europium (Eu), lanthanum (La), terbium (Tb), praseodymium (Pr), dan yttrium (Yt).
Semua mineral tadi tentunya bersumber dari tambang di seluruh planet ini. Misalnya hampir 90% tanah jarang (REE) ditambang di Tiongkok, litium (Li) ditambang di Chili, kobalt (Co) di Republik Demokratik Kongo, aluminium (Al) di Australia, fosfor (P) di Maroko, (Ni) nikel di Indonesia dan Kanada. Penambangan semua sumber daya untuk smartphone ini menghabiskan banyak energi, begitu pula pengirimannya dan produk jadi ke seluruh dunia.


Manfaat yang kita peroleh dari smartphone begitu besar. Di saat yang sama kita perlu sadar bahwa smartphone di hilir juga bergantung pada proses penambangan di hulunya. Setiap peradaban didukung oleh teknologinya. Teknologi didukung oleh proses penyediaan materialnya. Material diperoleh dari tambang dan pemrosesannya. Tambang ada jejak-jejak lingkungannya (natural-resource footprint).

Dari smartphone kita diingatkan untuk bijak dalam pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian lingkungan. Semoga kehadiran smartphone, kemajuan teknologi dan penambangan yang dilakukan atasnya dapat dijalankan dengan menyelaraskan kelestarian lingkungan di bumi kita ini.

Referensi:
Kesler, S.E, Simon, A.C. (2015) Mineral Resources, Economics and the Environment. Cambridge: Cambridge University Press






Comments